Peningkatan Fitur Google Map Untuk Pemetaan Kebakaran Hutan

  • Diposting pada 4 Oktober 2021
  • International
  • Oleh Admin Retenvi
  • 841 Dilihat

Layanan Facebook, meliputi Facebook, Instagram, WhatsApp, Messenger, dan Oculus mengalami down secara global selama kurang lebih 6 jam pada Senin malam (4/10) pukul 23 WIB dan berangsur mulai pulih secara bertahap pukul 05.30 WIB.

CTO Facebook, Mike Schroepfer, akhirnya membuat pernyataan di twitter setelah lebih dari 4 jam mengalami down: “Kami mengalami masalah jaringan dan tim bekerja secepat mungkin untuk men-debug dan memulihkan secepat mungkin”.

Akhirnya pukul 05.30 WIB, layanan Facebook bisa berjalan kembali. Hal ini disampaikan Facebook melalui twitter:

"Kepada komunitas besar orang dan bisnis di seluruh dunia yang bergantung pada kami: kami minta maaf," katanya. "Kami telah bekerja keras untuk memulihkan akses ke aplikasi dan layanan kami dan dengan senang hati melaporkan bahwa mereka telah kembali online sekarang. Terima kasih telah mendukung kami."

Doug Madory, direktur analisis internet dari perusahaan pemantauan jaringan Kentik, ikut mengomentari masalah ini: 

“Saya tidak tahu jika saya pernah melihat pemadaman seperti ini sebelumnya dari sebuah perusahaan internet besar”. 

“Bagi banyak orang Facebook adalah internet bagi mereka”, tambahnya kepada CNN.

Masalah yang menimpa Facebook kali ini sepertinya cukup serius karena tidak bisa diperbaiki cepat dan membuat layanannya down selama kurang lebih 6 jam.

Masalah apa itu? Belum ada pernyataan resmi terkait penyebab utamanya. Namun, beberapa pakar keamanan mengatakan kemungkinan masalahnya terdapat di Domain Name System (DNS) yang mengalami kegagalan. 

Hal tersebut juga disampaikan oleh John Graham-Cumming, CTO Cloudflare yang mengatakan kemungkinan besar masalahnya adalah kesalahan konfigurasi server Facebook. Komputer mengonversi nama situs web seperti facebook.com ke alamt IP numerik yang disamakan seperti buku alamat telepon. Bila nomor telepon ini dihapus dari buku alamat telepon tidak mungkin orang bisa menelepon mereka.  

Offlinenya layanan Facebook membuat pengguna Facebook dan Instagram menumpahkan keluh kesah mereka di Twitter menggunakan tagar #facebookdown yang dengan cepat menjadi trending. Meme-meme tentang Facebook pun menjamur.

Banyak orang di seluruh dunia, lebih dari 3,5 milyar orang, yang bergantung kepada Facebook, Instagram, Messenger, dan WhatsApp untuk berkomunikasi dengan teman dan keluarga, mendistribusikan pesan politik, dan menjalankan bisnis mereka sehingga matinya layanan membuat mereka mengalami kerugian signifikan.

“Dengan downnya Facebook, kami kehilangan ribuan penjualan,” kata Mark Donnelly, pendiri start-up di Irlandia yang menjalankan HUH Clothing, merek fesyen yang berfokus pada kesehatan mental yang menggunakan Facebook dan Instagram untuk menjangkau pelanggan. “Mungkin kedengarannya tidak banyak bagi orang lain, tetapi kehilangan empat atau lima jam penjualan bisa menjadi perbedaan antara membayar tagihan listrik atau sewa untuk bulan itu.”

“Semuanya turun, seluruh bisnis saya turun,” ungkap Samir Munir, yang memiliki layanan pengiriman makanan di Delhi. Munir tidak dapat menjangkau klien atau memenuhi pesanan karena dia menjalankan bisnis melalui halaman Facebook-nya dan menerima pesanan melalui WhatsApp.

Sama halnya dengan Douglas Veney, seorang gamer di Cleveland yang menggunakan GoodGameBro dan dibayar oleh pelanggan dan penontonnya di Facebook Gaming, dia mengatakan, “Sulit saat platform utama Anda untuk pendapatan bagi banyak orang turun. Situasi ini menakutkan baginya.

Masalah ini ternyata juga turut menimpa karyawan Facebook karena sistem internal mereka berhenti berfungsi sehingga memengaruhi semua sistem dan alat internal Facebook berupa sistem keamanan, kalender internal, dan alat penjadwalan. Beberapa karyawan Facebook tidak bisa memasuki gedung karena lencana digital mereka tidak berfungsi. Karyawan juga kesulitan melakukan panggilan dari ponsel dan menerima email di luar perusahaan. Mereka tidak bisa bekerja karena platform komunikasi internal Facebook dan Workplace juga mengalami masalah sehingga membuat mereka beralih ke platform lain untuk berkomunikasi, seperti Zoom, Discord, an LinkedIn.  

Pusat operasi keamanan global Facebook mengatakan bahwa insiden ini sangat berisiko tinggi bagi orang-orang, risiko sedang bagi aset, dan risiko tinggi terhadap reputasi Facebook. Sebuah tim kecil segera dikirim ke pusat data Facebook Santa Clara di California untuk melakukan reset manual server. 

Pada awal-awal Facebook membuka layanannya, down pernah sesekali terjadi akibat jutaan pengguna yang mengakses ke jaringan. Selama bertahun-tahun Facebook menghabiskan milyaran dolar untuk membangun infrastruktur dan layanannya, membangun pusat data yang sangat besar di Prineville, Ore, dan Fort Worth. Selama beberapa tahun Facebook berupaya mengintegrasikan infrastruktur untuk Facebook, WhatsApp, dan Instagram.

Terakhir kali Facebook mengalami down yang signifikan pada 2019 saat kesalahan teknis memengaruhi situsnya selama 24 jam. Ternyata perusahaan raksasa internet yang didukung dengan infrastruktur paling kuat pun tidak bisa mengelakan insiden pemadaman layanan walaupun cukup langka terjadi tetapi memiliki dampak besar karena menyentuh hampir 3,5 milyar orang di seluruh dunia.

Penulis
admin
Admin Retenvi

Anda Mungkin Juga Menyukai